Cerpenku

“I-ni… b-u, bu, k-u, ku, bu-ku…”

Aku menatap anak kecil itu dengan pandangan bosan. Tom- nama anak kecil itu -berusaha untuk membaca dengan serius.

Hhh, aku mendesah. Ya ampun, kenapa aku bisa ada di tempat seperti ini, sih?? Maksudku, mengajar anak lelaku umur 6 tahun yang tidak dapat membaca dan menulis, sementara aku masih harus memikirkan nasib tugas-tugasku yang masih terbengkalai.

Tom “membaca” buku- hmm.. Yang untuk membaca namanya, apa, ya? Buku membaca kah? -dengan serius sampai-sampai aku memikirkan bahwa mata Tom yang terus melotot, akan meloncat keluar dari matanya.

Oh, sementara dia membaca- lebih tepatnya berusaha membaca -aku harus memikirkan tugas-tugasku. Ada berapa banyak, ya?? Ketika membuka agendaku, aku melotot melihat seberapa banyak tugas-tugas yang harus kukerjakan. Aku bisa pingsan sekarang! Bayangkan, ukkh.. Aku tidak sanggup untuk menyampaikannya, ada sekitar 15 tugas!!

Catatan untuk guru-guru disekolahku: memberi tugas itu membantu siswa dalam mendapatkan berbagai macam pengetahuan, tapi…. Jika memberi tugas terlalu banyak, maka akan menghancurkan prises perkembangan otak anak berumur 14 tahun, seperti aku ini!!

Oke, mari kita melihat tugas pertama: 1. “Membuat cerpen dengan tema ‘KEPAHLAWANAN’ dikumpul besok.” Aku melongo. Besok? Besok?? BESOK??!!! TIDAAAKK!!! Pahlawan? Cerpen Pahlawan?? Oh, ayolah, itu ‘kan sudah jadul! Lebih menarik membuat cerpen tentang vampire, monster, anak yang amat pintar, dan lain-lain. Tapi! Pahlawan??? Ukkh…

Pikir, pikir, Sasha, kau itu pintar dalam hal mengarang. Pahlawan.. hmm… Mari kita lihat, mungkinkah itu adalah saat-saat dimana seorang pahlawan menuelamatkan seorang putri?? Tidak. Tidak.. Ini terlalu aksi. Lalu tentang ‘Guru: sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa??’ Kujamin, 85% dikelasku akan mengarang tentang guru. Itu terlalu bi-a-sa

Lalu, apakah tentang seorang ibu, yang rela bersakit-sakit demi melahirkan anaknya? Yah, 15% di kelasku akan membuat cerpen bertema seperti itu. Lalu, apa?? APA?? Oh, setidaknya, saat ini seorang Sasha skak-mat. Tidak bisa membuat cerita yang kreatif. Padahal, biasanya, semua mengalir bagaikan ombak di pikiranku. Tapi sekarang?? Jangankan ombak, sedikit deburan air pun tidak.

“.. Kak.. Kak.. Kak Sasha!!”

Aku terbangun dari lamunanku yang menyesatkan. Mungkin Tom sudah selesai membaca satu halaman, walau aku tidak yakin ia benar-benar membacanya dengan benar dan lancar.

“Ya, kenapa, Tom??” tanyaku sambil memasang senyum di mukaku. Kau harus ingat, dalam menangani anak-anak yang dibutuhkan hanyalah kesabaran dan..senyum.

“Ehm.. Kak, boleh ngga hari ini aku selesai aja?” tanya Tom dengan raut memelas. Aduh.. Dia lucu sekali! Aku ingin mencubit pipinya!

“Lho, kenapa?” Tentu saja walaupun dia memelas sehingga tambah lucu, tak bisa dibiarkan seorang anak yang belum bisa membaca tidak latihan membaca yang efektif. Itu peraturannya.

Tom kelihatan gelisah, enggan menjawab. Aku mengerutkan alis. Memangnya salah jika aku menanyakan hal itu? Itu ‘kan peraturan!

“Kenapa, Tom, kakak gak akan ketawa ataupun sedih, kok. Malahan kakak mau bantuin kamu. Jadi ada apa?” Biasanya perkataan ini manjut bagi anak-anak yang enggan berbicara.

“Aku.. ingin berjualan es. ‘Kan kasihan mamaku yang bekerja keras demi membiayai aku dan adikku.” Jawabnya polos. Aku mengerjap. Ya ampun.. Dia masih berumur 6 tahun tapi bisa berjualan! Sementara aku? Selama 14 tahun hidupku, aku belum pernah sekalipun berjualan atau pun melakukan sesuatu yang menghasilkan uang. Aku jadi malu.

Memang aku tahu, latar belakang keluarga Tom. Tom hanya mempunyai ibu. Sementara ayahnya pergi meninggalkan keluarga Tom karena tak mau menerima keadaan mereka yang miskin, tipe pria yang hanya mementingkan harta. Sebagai sesama wanita, aku memang turut prihatin dan geram melihat ibunya Tom-yang hanya buruh pabrik-bekerja keras untuk kedua anaknya sementara suaminya pergi bersenang-senang, sekadar menikmati hidup. Ayah macam apa itu??

Tom memang punya adik, yang masih berusia 4 tahun, namanya Sina. Anak yang manis dan penurut. Aku menyukai Sina saat pertama kali bertemu dengannya. Sementara Tom, dia seharusnya masuk SD, tetapi karena faktor kemiskinan, dia tidak bisa mengecap bangku sekolah dasar. Kebetulan saat itu aku membuka les gratis bagi anak-anak yang keluarganya dibawah garis kemiskinan. Dan Tom adalah murid les pertamaku.

“Jadi, kak, boleh ngga aku jualan sekarang?” Ini keduakalinya perkataan Tom membuyarkan lamunanku.

“Hmm.. Kenapa tidak? Kakak rasa, les hari ini sudah cukup. Dan bagaimana, kalau kakak ikut berjualan es? Siapa tahu, bisa menambah pengetahuan.” Kataku sambil mengembangkan senyum.

Tom terbelalak kaget tapi akhirnya mengangguk senang sambil berkata,”Tentu saja! Terimakasih, Kak!”

“Kakak, dong, yang harus mengucapkan terimakasih, karena kamu, kakak bisa mengerjakan cerpen kakak!” Kataku sambil mengedipkan mata.

“Cerpen? Cerpen apa?” tanyanya bingung.

“Sudah, ayo, kita berangkat sekarang saja!” Aku menuntun Tom keluar.

Yah, terimakasih Tom, aku pasti dapat membuat cerpen yang bagus dan bermutu!